6 Fakta Unik Kota Solok ” Bareh Solok ”

Kabau Sirah – Solok adalah salah satu kotamadya di provinsi Sumatera Barat di Indonesia. Solok dulunya adalah ibu kota Kabupaten Solok. Kota Solok terdiri dari dua mikrodistrik dan 13 mikrodistrik.

Letak kota Solok sangat strategis karena berada di persimpangan jalan antar provinsi dan antar kabupaten/kota. Kota ini merupakan titik transit untuk mencapai kota Padang, ibu kota provinsi Sumatera Barat, dengan jarak tempuh sekitar 64 km.

Dari arah selatan terdapat perempatan Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi. Sedangkan di sebelah utara, Anda akan menuju ke kota Bukittinggi yang berjarak sekitar 71 km dari wilayah Sumatera Utara.

Hingga pertengahan tahun 2021, jumlah penduduk kota Solok adalah 76.271 jiwa. Penduduk usia kerja mayoritas bekerja di bidang perdagangan (sekitar 33 persen), disusul sektor jasa sebesar 32 persen, dan usaha pertanian sebesar 16 persen. Sumber mata pencaharian utama ini juga menunjukkan kondisi lapangan kerja di Kota Solok yang didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa, didukung oleh sektor pertanian yang merupakan ciri masyarakat agraris.

 

Berikut 6 fakta menarik tentang kota Solok :

 

1. Sejarah Kota Solok

Nama Kabupaten Solok berasal dari nama Nagari Solok, seperti yang mereka katakan, nama Solok berarti sayolok atau baik. Kota Solok dulunya merupakan sebuah kecamatan Nagari di Kabupaten Solok yaitu Nagari Solok. Rencana menjadi kotamadya dimulai pada tahun 1946 dalam rapat Panitia Nasional Cabang Solok melalui panitia yang diketuai oleh Marah Adin Dt. kepala Sati.

Pada tanggal 16 Desember 1970, upaya penguatan penyelenggaraan kotamadya Solok diselesaikan oleh pemerintah pusat dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1970 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Kotamadya Solok dan pemerintah kota. Payakumbuh. Kota Solok akhirnya diresmikan pada 16 Desember 1970 oleh Menteri Dalam Negeri yang saat itu dijabat oleh Amir Mahmud. Kepegawaian Pemerintah Kota Solok secara resmi dibuka pada tanggal 21 Desember 1970 di Balaikota Solok.

Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka penggunaan istilah “Kotamadya” diubah menjadi istilah “Kota”, sehingga secara resmi istilah “Kotamadya Solok” diubah menjadi “Kota”.

 

2. Budaya Turun mandi bayi

Mandi di pemandian merupakan tradisi yang ada di daerah Minangkabau dan masih hidup dan berkembang di beberapa daerah di Sumatera Barat. Salah satunya terletak di wilayah Solok Selatan. Solok Selatan merupakan daerah pemekaran kota Solok dan Kabupaten Solok.

Masyarakat di sini masih menjaga tradisi leluhur ini sejak lama hingga sekarang. Tradisi turun ke bak mandi dilakukan pada bayi yang baru lahir berumur beberapa hari. Mandi dilakukan dengan membawa anak ke sungai terdekat, yang seringkali dialihkan ke sungai kecil yang airnya tidak terlalu deras.

Setelah memandikan anak, diatur makan di rumah orang tua anak. Ibu dari anak dan seluruh keluarga, serta yang diundang, makan bersama.

 

Baca Juga : 6 Fakta Menarik Kota Budaya : Kota Batusangkar

 

3. Air Terjun Sarasah Batimpo

Solok memiliki banyak tempat wisata, terutama wisata alam yang menarik. Salah satunya adalah air terjun Sarasa Batimpo. Nama tersebut berasal dari dua kata: “sarasah”, yang berarti “air terjun”, dan “batimpo”, yang berarti “hancur/bertingkat”.

Tempat wisata ini berjarak sekitar 4 km dari pusat kota yang terletak di Desa Laing, Tanjung Harapan, Kota Solok. Bagi yang berjiwa petualang, wisata ini cukup menarik dan menantang untuk dikunjungi.

Anda perlu berjalan kaki sekitar 500 meter dari area parkir melalui bebatuan besar yang mengalir di bawah sungai. Dengan suasana alam yang masih asri, dikelilingi pepohonan rindang, perjalanan jauh pasti akan terbayar.

 

4. Kota Beras

Istilah Barah Solok atau Beas Solok sudah sangat dikenal. Beras Solok dikenal memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis beras lainnya. Cara menikmati nasi solok cukup mudah, Anda bisa mengunjungi restoran-restoran di seluruh penjuru kota karena warung tengahnya menggunakan nasi lokal.

Beras Solok juga telah diakui oleh pemerintah pusat menyusul diterbitkannya sertifikat Indikasi Geografis (IG) oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2018. Produk unggulan Solok.

Dengan IG ini, beras Solok sudah memiliki payung hukum yang memastikan beras yang dijual benar-benar berasal dari Solok. Selain itu, IS juga merupakan bentuk pengakuan bahwa Solok adalah lumbung padi. Beras Solok menjadi komoditas pertanian pertama di Sumatera Barat yang mendapatkan sertifikasi IG.

5. Kuliner khas Solok

Sumatera Barat memiliki kuliner yang sangat beragam, termasuk Solok. Ada Pepes yaitu Singkarak, gulai ayam hitam, pangek Sasau dan Ampiang Dadiah atau jajanan susu kerbau. Selain itu, ada kalio baluik tapak leman, galamai karukuik, samba lado masiek patai chino, banana panyaram, randang pangikua dan balado chankuak karupuak jangek.

Kalio baluik tapak leman adalah gulai belut kental yang dicampur dengan daun mangkok atau tapak leman. Sedangkan samba lado masiek patai chino adalah sambal kering yang digoreng dengan petai. Selain itu, galamai atau gelamai karukuik khas Solok, pisang panyaram, rendang atau rendan pangikua, dan samba atau sambal lado chankuak dengan kerupuk kulit atau jangek terdapat hampir di seluruh wilayah Solok.

Jika Anda melewati Nagari Guguak dan Thalang di aula atau hari pasar, Anda bisa mencoba walweek langkok yang diisi seperti ketupat dengan kuah kari yang dicampur dengan sambal kacang dan sate dalam satu mangkuk.

6. Masjid Raya Al-Muhsinin

Masjid Raya Al-Muhsinin merupakan masjid terbesar di Kota Solok yang terletak di seberang Jalan Datuak Perpathih Nan Sabatang, Desa Aro IV Korong, Lubuk Sikara. Masjid ini menyelenggarakan acara keagamaan skala regional, seperti tabligh akbar dan pertemuan umat, terutama di kota Solok.

Masjid yang dibangun sejak 2009, menelan biaya sekitar 36 miliar rupee. Pelantikan dilakukan oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar pada 14 Desember 2011.

Masjid pertama yang dibangun pada tahun 1984 mengalami kerusakan parah setelah serangkaian gempa bumi pada Maret 2007. Pemulihan dimulai pada 20 Agustus 2009. Bangunan utama adalah mushola, terdiri dari dua lantai dengan ukuran dasar 35×35. meter persegi. Masjid ini dikelilingi oleh empat menara dengan tinggi masing-masing 40 meter. Arsitekturnya terinspirasi dari Masjid Atta-Avun di Punchak, Bogor, Jawa Barat.