7 Fakta Menarik Kota Bukittinggi yang Harus Kamu Tahu

Kabau Sirah – Selain Padang, bisa dibilang kota di Sumatera Barat yang paling dikenal di mata wisatawan adalah Bukittinggi. Posisi kota Bukittinggi sebagai tempat transit perjalanan dari Medan dan Pekanbaru menuju Padang atau sebaliknya memegang peranan penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Kota ini dikunjungi lebih dari 400 ribu wisatawan. Pasalnya, selain lokasinya yang strategis dan udaranya yang sejuk, tentunya kota Bukittinggi memiliki banyak tempat wisata untuk dikunjungi.

 

Berikut 7 Fakta meniarik Kota Bukittinggi :

 

1. Pernah Menjadi ibukota Indonesia pada masa darurat pemerintahan Republik Indonesia

Pada tanggal 19–20 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer Kedua. Pada agresi militer Belanda kedua ini, Belanda menangkap Sukarno, Mohammad Hatta, Syahri dan beberapa tokoh penting lainnya.

Akibat agresi militer ini, Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota negara jatuh ke tangan Belanda.

Sebelum ditangkap, Sukarno bersama Wakil Presiden Hatta, J. Leymena dan Laxmana Surjadi Surjadarman, mengadakan pertemuan di istana. Hasil pertemuan itu adalah rencana pembentukan pemerintahan sementara republik dipindahkan ke Sumatera. Sebuah telegram segera dikirim ke Syafruddin memintanya untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera.

Syafruddin tidak pernah menerima telegram tersebut, namun pada tanggal 22 Desember 1948, sejumlah tokoh republik di Sumatera Barat berkumpul di Halaban. Kemudian datanglah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pemerintahan darurat Republik Indonesia tidak berlangsung lama, setelah kabinet Hatta menandatangani perjanjian Ryoma-Royen, pemerintahan sementara ini bubar pada tanggal 13 Juli 1949.

 

2. Jam Gadang

Memiliki menara jam yang disebut kembaran Big Ben
Warga Bukittinggi bisa bangga memiliki ikon kota yang sangat terkenal di mata wisatawan, yaitu Jam Gadang. Banyak yang mengatakan bahwa mereka “tidak berada di Sumatera Barat jika tidak difoto dengan latar Jam Gadang”.

Jam Gadang sering disebut sebagai kembaran Big Ben di London. Mengapa? Ternyata jarum jam yang digunakan di Jam Gadang sama persis dengan jarum jam Big Ben di London. Mesin jam tangan ini dibuat oleh perusahaan jam tangan asal Jerman yaitu Vortmann Relinghausen, dan hanya ada dua mesin jam tangan di dunia. Makanya Cem Gadang dan Big Ben disebut kembar.

 

3. Dinamai Belanda : Taddsgemente Fort de Kock.

Pada awal pembangunannya, Belanda memberi nama kota sejuk ini dengan nama Fort de Coq. Fort de Cock adalah benteng di puncak bukit yang dibangun pada tahun 1826 untuk menyerang kaum Padri.

Nama de Kock sendiri diambil dari nama seorang perwira Belanda yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yaitu Hendrik Merkus de Kock.

Seiring berjalannya waktu, kekuatan pemerintah kolonial Belanda semakin kuat, benteng ini menjadi kota administratif.

 

 

Baca Juga : Kisah 3 Batu Ajaib di Batusangkar – Sumatera Barat

 

4. Kota Yang Dengan Cuaca Sejuk

 

Secara geografis, Bukittinggi terletak pada ketinggian 909 – 941 meter di atas permukaan laut, sehingga udara di kota kelahiran Bung Hatta ini sejuk. Suhu udara rata-rata di Bukittinggi berkisar antara 16,1 hingga 24,9 derajat Celcius.

 

 

5. Kota terbesar kedua di Sumatera Barat

 

Bukittinggi adalah kota terbesar kedua di provinsi Sumatera Barat setelah Padang. Luas de jure Bukittinggi adalah 145,29 km2, namun luas de facto Bukittinggi hanya 25,24 km2 karena sebagian masyarakat di Kabupaten Agam menolak perluasan wilayah.

Karena itu, Bukittinggi menjadi kota terbesar keempat di Indonesia setelah Padang Panjang yang memiliki luas hanya 23 km2.

 

 

6. Menjadi kota wisata sejak tahun 1984

 

Dahulu kala Sebelum ditetapkan sebagai kota pariwisata, sektor pariwisata menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Bukittinggi. Namun, sayangnya, upaya pengembangan pariwisata sebagai ikon perkotaan saat itu belum maksimal. Ada beberapa kendala, seperti ketakutan masyarakat jika ada orang asing yang datang bisa merusak agama dan tatanan nilai.

Kemudian saat itu pemerintah memaksimalkan sosialisasi untuk mengubah cara masyarakat memperlakukan wisatawan. Upaya tersebut membuahkan hasil dan pada 11 Maret 1984, Bukittinggi dinyatakan sebagai kota wisata.

Pasca proklamasi kota pariwisata di Bukittinggi, terjadi perubahan yang terus berlanjut hingga saat ini. Euforia masyarakat yang merasakan manfaat pariwisata memicu berkembangnya industri kreatif di berbagai bidang seperti seni, pertunjukan, kerajinan, dan kuliner.

 

 

7. Surga bagi pecinta kuliner

 

Bukittinggi adalah surga kuliner. Sangat mudah untuk memanjakan lidah dan perut Anda di sini. Ke mana pun kaki Anda pergi, Anda akan menemukan restoran dan mereka semua berlomba-lomba menjual selera karena hanya itu yang penting di sini.

Sate Padang bisa Anda temukan di Pasar Atas, namun sedikit berbeda di tempat lain: dagingnya dilapisi parutan kelapa, sehingga harum saat dibakar. Ada juga Soto Padang, Ampiang Dadiah, Es Tebak dan lain-lain.

 

Jika Anda ingin makan yang lebih berat, Anda bisa turun ke pasar Lereng di mana Anda akan menemukan Los Lambuang yang menjual Nasi Kapau dengan lauk yang lezat.

 

Perjalanan ke Bukittinggi

 

Bukittinggi, kota utama dataran tinggi Sumatera Barat, berjarak sekitar 100 km dari Bandara Internasional Minangkabau di Padang. Setibanya di bandara, Anda bisa dengan mudah mencari mobil untuk mengantar ke Bukittinggi, tarifnya Rp 45.000 per orang. Waktu tempuh ke Bukittinggi sekitar 2 jam jika jalannya mulus dan tidak macet.

 

Baca Juga : 6 Fakta Menarik Kota Budaya : Kota Batusangkar

Akomodasi di Bukittinggi

 

Sebagai kota wisata, tentunya sangat mudah bagi Anda untuk mencari penginapan di sini. Ini memiliki segalanya mulai dari homestay hingga 4 bintang.