Kisah 3 Batu Ajaib di Batusangkar – Sumatera Barat

Kabau Sirah – Sumatera Barat dikenal lebih dari sekedar rendang yang enak. Legenda tersebut juga ada di masyarakat, salah satunya adalah Batu Malin Kundang.

Kisah Malin Kundang dan ibunya dijadikan sebagai bahan ajar agar anak-anak tidak durhaka kepada orang tua. Ternyata selain batu Malin Kundang, ada tiga batu lagi yang hanya bisa ditemukan di Sumatera Barat.

Hal ini berbeda dengan batu Malin Kundang yang diawali dengan kutukan.

 

Berikut 3 batu yang terletak di kota Batusangkar ini memiliki latar belakang yang menarik :

 

 

 

1. Batu Basurek

 

 

 

Basurek artinya tertulis, kata Basurek Batu, karena ada tulisan di batu ini. Batu ini ditulis menggunakan aksara Jawa kuno dalam bahasa Sansekerta. Ukurannya lebar 25 cm, tinggi 80 cm dengan ketebalan 10 cm dan berat sekitar 50 kg.

Batu ini pertama kali ditemukan oleh sejarawan Belanda P. H. Van Hengst pada 16 Desember 1880.

Prasasti yang terletak di atas makam Raja Adityavarman ini menceritakan tentang kerajaan Pagaruyung pada masa pemerintahan Raja Adityavarman. Tempat wisata sejarah ini terletak di Desa Kubu Rajo, Limusin Nagari Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Batusangkar.

Meski tidak diketahui siapa pembuat batu tersebut, namun ukiran ini menjelaskan tentang kemakmuran kerajaan Pagaruyuang di masa lalu.

Namun, prasasti ini tidak memberikan informasi tentang batas wilayah kekuasaan Raja Adityawarman. Apakah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung meliputi seluruh wilayah Minangkabau atau hanya sebatas Sangkar Batu. Melihat lebih dalam, raja-raja kerajaan Sumatera Barat adalah keturunan dari kerajaan Pagaruyung.

Menurut salah satu pengunjung makam Raja Adityavarman, Dina Aulia, tulisan di makam Raja Adityavarman terlihat indah, meski kebanyakan orang tidak mengerti apa yang tertulis.

“Kami tidak bisa membaca prasasti, tetapi ketika kami mendengar penjelasan tentang batu ini, kami ingin tahu lebih banyak tentang situs bersejarah ini,” jelas Dina yang baru pertama kali mengunjungi makam tersebut.

 

2. Batu Angkek Angkek

 

 

 

Dalam bahasa Indonesia, angkek berarti naik. Batu anggrek ini terdapat di Nagari Balai Tabuh, Sungayan, Tanah Datar, Batu Kage, Sumatera Barat.

Batu Angkek sekilas terlihat seperti tempurung kura-kura. Kuning-cokelat, tepi hitam agak bersisik. Meski bentuknya tidak terlalu menarik, batu ini memiliki kekuatan supranatural yang banyak dikenal.

Dengan mengangkat benda ini di pangkuan Anda, Anda dapat mengetahui apakah sebuah keinginan akan terkabul atau tidak. Jika Anda berhasil mengangkatnya, maka keinginan itu akan terkabul.

Di sisi lain, jika Anda tidak bisa, maka harapan Anda akan menjadi kenyataan. Menurut sejarah, batu ini ditemukan oleh Datuak Bandaro Kayo saat mendirikan tiang-tiang rumah.

Saat batu itu ditemukan, berbagai keanehan terjadi, mulai dari gempa lokal hingga hujan deras yang berlangsung selama 14 hari 14 malam.

Melihat fenomena alam seperti itu, warga desa berkumpul untuk rapat. Saat pertemuan berlangsung, masyarakat dikejutkan dengan suara tiba-tiba dari lubang tempat tiang-tiang rumah Datuaka Bandaro Kayo dipasang.

Suara itu mengatakan bahwa ada batu di lubang di tiang rumah, nama batu ini adalah Batu Pandapatan. Suara itu juga menyarankan untuk merawat batu itu.

Delapan generasi kemudian, anggrek batu masih menyimpan misteri. Sebelum Anda membawa batu ini ke lutut Anda, Anda perlu melakukan beberapa hal, yaitu wudhu, niat membaca dan doa.

Batu peramal itu kini disimpan di Rumah Gadang Datuak Bandaro Kayo. Pengunjung dapat masuk dan mengambil batu tersebut secara gratis. Anda cukup memberikan oleh-oleh yang disediakan seharga 10 ribu rupiah.

Salah satu pemuda asal Kabupaten Tanah Datar, Robi Ilham, mengaku pernah mendengar cerita tentang batu sakti ini sejak kecil. Anggrek batu dapat mengetahui apakah keinginan seseorang menjadi kenyataan. “Jika kita berhasil mengangkat batu itu, maka keinginan kita akan terkabul. Itu yang mereka katakan,” kata Ilham .

 

Baca Juga : Sejarah Dan Peninggalan Kerajaan Pagaruyung

 

3. Batu Batikam

 

 

 

Batu batikam artinya batu yang ditusuk. Tempat wisata bersejarah ini terletak di Desa Jorong Tuo, Nagari Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Batusangkar, Sumatera Barat. Menurut legenda, batu ini ditusuk oleh dua bersaudara, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan.

Kedua datuaka ini lahir dari rahim ibu yang sama, tetapi ayah mereka berbeda. Ayah Datuak Parpathia Nan Sabatang adalah seorang yang cerdas dan berbudi luhur. Sedangkan ayah Datuak Katumanggungan adalah orang yang sangat kaya raya.

Kehadiran bapak-bapak dengan latar belakang yang berbeda membuat mereka memiliki sudut pandang tersendiri terhadap apa yang terjadi.

Melihat status masyarakat, misalnya, Datuak Parpathih berpendapat bahwa masyarakat diatur oleh demokrasi. “Duduklah serendah-rendahnya, berdirilah setinggi-tingginya.” Kesetaraan bukanlah perbedaan kasta antara anggota keluarga kerajaan dan rakyat biasa.

Sementara itu, Datuak Katumanggungan berpendapat bahwa lebih baik masyarakat diatur berlapis-lapis. Langkahnya sama seperti saat naik, langkahnya sama seperti saat turun. Dengan aturan dan peraturan.

Karena perbedaan pemahaman ini, dua bersaudara Datuak Parpathih Nansabatang dan Datuak Katumanggungan mengaku karena takut saling menyakiti, mereka mengungkapkan kemarahannya dengan menusukkan keris ke batu dari arah yang berlawanan hingga muncul lubang di batu. Batu ini masih dikenal dengan nama Batu Batikam.

Selama ini tawuran antara Datuak Parpathih Nansabatang dan adiknya Datuak Katumanggungan menjadi contoh bagi masyarakat sekitar. Elvardi, warga Batusangkar, mengaku selalu menceritakan kisah dua bersaudara itu kepada anak-anaknya.

Meskipun mereka memiliki perbedaan, mereka tetap tidak ingin menyakiti saudara mereka. “Mereka melampiaskan amarahnya pada benda lain agar saudaranya tidak terluka dan amarahnya bisa mereda,” kata ayah kelahiran 1967 ini.

“Meskipun kita tidak setuju dengan saudara kita, kita harus ingat bahwa kita tidak boleh menyakitinya,” kata Elvardi kepada anak-anaknya. (Miftahul Jannah)